Karyawan PA. Vitri : ”Goes to Sumatera Utara…..”

Senin, 21 Juni 2010, pkl. 04.00 wib, terlihat kesibukan di PA. Vitri, Pimpinan dan karyawan menyiapkan diri untuk perjalanan yang lumayan jauh, propinsi Sumatera Utara adalah tujuannya. Di awali dengan doa bersama, kami menuju ke Bandara Soekarno Hatta, Cek in cukup lama karena barang bawaan cukup banyak dari perlengkapan pribadi, oleh-oleh, perlengkapan kesehatan dan yang tak kalah penting bahan makanan mentah maupun siap saji.

Tujuan perjalanan ini bukan semata-mata untuk rekreasi, tetapi lebih dari itu yaitu untuk mengunjungi saudara-saudara dipanti yang ada di daerah Sumatera Utara. Selain itu juga untuk berziarah ke gereja-gereja Inkulturasi. Jadi ada beberapa tujuan yang ingin kami capai, dan perjalanan ini kami sebut ‘Anjangsana’

Tiba saatnya untuk terbang………bye Jakarta………..terlihat banyak karyawan yang menikmati penerbangan ini dengan melihat awan maupun pemandangan dibawah sana, namun ada juga yang khusuk memegang Rosario dengan wajah harap-harap cemas, seolah bertanya :”kapan mendarat dan menginjak tanah lagi”?............Penerbangan lancar dan kami tiba di Bandara Polonia Medan dengan selamat, senyum ceria menghiasi wajah para rombongan. Di Bandara, kami telah di jemput oleh seorang suster dari komunitas KSSY dan juga Bus Pariwisata “Intra” yang akan menghantar kami untuk berkeliling propinsi Sumatera Utara.

Tujuan pertama kami adalah penginapan yaitu Asrama Puteri St. Theresia di Jl. Hayam Wuruk Medan. Kami di sambut dengan ramah oleh para suster KSSY yang mengelola asrama tersebut.

artikel1-2

Setelah melepaskan lelah dan makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju Gereja Inkulturasi, yang di kenal dengan nama Graha Maria Annai Velangkanni sebuah Graha unik yang persembahakan kepada Bunda Penyembuh, keunikan bangunan Graha terletak pada keaslian arsitektur Indo-Mongulnya, sebuah Graha megah berbentuk menara candi yang sangat menarik. Bangunan serba guna yang asli terdiri dari dua lantai, lantai dasar untuk pertemuan dan tempat ibadah di lantai satu, di lengkapi dengan balkon dan tujuh tingkat menara dengan tiga kubah yang melambangkan surga, tempat Tritunggal maha Kudus bertahta. Begitu masuk gerbang kita akan melihat bangunan inkulturatif Sumatera Utara dengan rumah Tradisional Batak dalam bentuk miniatur yang menyambutnya diatas gapura pintu masuk. Segera kita akan merasakan bahwa kita masuk dalam pusat penziarahan yang merupakan: “tempat penyambutan selamat datang dan pertemuan antara Allah dan UmatNya.” Dan di situ kami berdoa rosario , sebagai ungkapan syukur dan permohonan kepad Sang Bunda Penyembuh.

artikel3artikel4

Setelah dari gereja Inkulturasi, Kami melanjutkan perjalanan ke Panti Asuhan Karya Murni yaitu Panti yang melayani penyandang cacat Tuna Netra yang di kelola oleh para suster KSSY, lagi-lagi kami disambut dengan ramah dan penuh kekeluargaan. Anak-anak menyambut kami dengan menunjukan kemampuan mereka dalam bernyanyi, lagu-lagu yang mereka bawakan membuat banyak peserta rombongan menjadi terharu dan meneteskan airmata, bahwa kekurangan yang mereka miliki tidak mengurangi semangat mereka untuk tetap berjuang dalam hidup. Dengan motto “ Hargailah Kehidupan”, Panti Asuhan Karya Murni mengajak kami untuk menghargai semua karya Allah yang kami jumpai setiap hari dalam berbagai bentuk.

artikel5-6

Dengan semangat untuk berbagi, kami melanjutkan perjalanan menuju PA. St. Angela Delitua di Deli Serdang yang di kelola oleh para suster Fransiskanes, perjalanan yang kami tempuh cukup jauh dan kami semua belum tahu dimana letak Panti tersebut. Setelah beberapa lama, sampailah kami di PA. Delitua, panti tersebut mengasuh anak-anak puteri (normal). PA. St. Angela Delitua adalah panti yang asri dengan lingkungan hijau yang luas, berada satu areal dengan Paroki dan Frateran. Kami disambut dengan ramah Suster yang mengelola Panti tersebut dan dapat berbincang sejenak diteras panti, walaupun kami tidak sempat bertemu dengan anak-anak disana namun kami sangat senang bisa berkunjung dan berbagi.

artikel7-8

Hari telah sore dan beberapa peserta yang mulai terlihat lelah, namun semangat masih menyala, sehingga perjalanan kami lanjutkan menuju PA. Karya Kasih di daerah Pasar Merah, panti yang di kelola oleh para suster KSSY. Kami tiba di PA. Karya Kasih setelah hari hampir gelap, kami disambut dengan ramah, walaupun suster yang menyambut kami terlihat kaget dengan kedatangan kami yang tiba-tiba. PA. Karya Kasih adalah panti yang melayani penyandang cacat Tuna Rungu, anak-anak tersebut diasuh dan dibimbing untuk terampil dan mandiri, usaha mereka adalah konfeksi dan produksi lilin dalam berbagai bentuk, dari bentuk biasa hingga yang sangat indah. Disana kami sempat bertemu dengan beberapa anak yang ada. Ahkirnya kami kembali ke penginapan dan istirahat………

artikel9

Selasa, 22 Juni……..kami melanjutkan perjalanan menuju PA. Betlehem Bandar Baru. Tiba disana kami disambut dengan ramah oleh Pastor Sebastian OFMConv.

artikel10artikel12

Dan anak-anak panti asuhan putra, setelah membereskan barang bawaan, kami melanjutkan perjalanan di pandu Pastor Sebas, pertama yang kami kunjungi adalah Rumah Retret St. Agnes yang terletak di daerah yang cukup dingin dengan alam yang indah. Di rumah retret tersebut kami diterima dengan sangat baik dan kami merasakan adanya kedamaian dan rasa kekeluargaan dari para suster yang menerima kami.

artikel13

Dari rumah retret, perjalanan kami lanjutkan ke Gundaling, tetapi sebelumnya kami singah untuk makan siang di Rumah Makan Asia dan kami makan siang dengan enak dan kenyang. Oh ya,.. Gundaling berasal dari kata : Good by my darling, menurut cerita, konon ada seorang gadis yang sangat cantik yang karena sesuatu hal harus berpisah dengan kekasihnya di tempat tersebut, dan sang gadis mengucapkan kata-kata perpisahan dengan kekasihnya. Gundaling merupakan dataran tinggi dimana dari tempat tersebut kita dapat melihat pemandangan yang indah yaitu gunung, lembah maupun pemukiman nan jauh dibawah sana, bagi yang berminat dapat juga berkeliling dengan menunggang kuda. Selanjutnya kami berbelanja di Berastagi, yaitu daerah berhawa dingin dengan hasil kebun berupa sayur mayur yang segar dengan harga murah bila pandai menawar tentunya. Disinilah ibu-ibu kebingungan karena keinginan untuk berbelanja sayuran kurang terpenuhi, mereka ingin membeli tetapi takut sayuran busuk, karena kami masih harus melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat, akhirnya hanya kentang merah yang mampu bertahan hingga di Jakarta. Sedangkan yang lain seperti biasa belanja souvenir dan pakaian yang tentunya harus ada tulisan ‘Berastagi’ untuk kenangan katanya.

artikel11

Dari Berastagi kami melanjutkan kunjungan ke Rumah Retret Maranatha, yaitu sebuah rumah retret yang cukup terkenal di Sumatera Utara. Di sana kami berdoa secara pribadi di depan Goa Maria, kemudian berbincang sejenak dengan seorang Pastor. Hari menjelang sore sehingga kami harus meninggalkan tempat tersebut untuk menuju permandian air panas Debuk-debuk dikaki gunung Sibayak. Disinilah rombongan menceburkan diri di air yang hangat dengan aroma belerang untuk melepaskan rasa lelah yang mulai datang. Setelah cukup relax kami kembali ke penginapan yaitu PA. Betlehem di sana kami sambut ramah oleh Pastor Mario OFMConv sebagai pimpinan komunitas, di lanjutkan dengan makan malam yang mengesankan dan luar biasa di pastoran, dengan menu masakan yang menggugah selera yaitu aneka hidangan ikan yang dimasak dengan resep asli daerah setempat. Setelah makan malam usai kami bertemu dengan anak-anak panti putera dan puteri PA. Betlehem untuk saling berbagi pengalaman. Dari situ kami mendapat pengalaman bagaimana pengasuhan anak dengan gaya mirip pembinaan di Seminari. Usai pertemuan dengan anak-anak, kami kembali ke pastoran untuk melanjutkan acara makan yaitu makan buah durian sampai puas, kalau mungkin ingin rasanya durian-durian tersebut kami bawa ke Jakarta………kapan lagi makan durian seperti itu…..? tetapi bagi yang tidak suka durian masih ada buah lain yang bisa dinikmati.

Rabu, 23 Juni 2010……..setelah misa pagi dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Samosir, good bye PA. Betlehem…….terima kasih telah menerima kami dengan sangat baik. Sepanjang perjalananan yang kami lalui banyak sekali perkebunan jeruk, tomat, bunga kol dsb yang sangat menyegarkan mata kami, selain itu banyak sekali dijumpai warung BPK alias Babi Panggang Karo, bagi para pengemar B2 tentu harus dicoba ( kapan lagi………ketemu menu asli begini..? di Jakarta kan jarang ada.) Kemudian tibalah kami di Air Terjun Piso-Piso yaitu air terjun di hulu Danau Toba, tetapi kami hanya berfoto ria karena peserta tidak mampu melewati tangga yang sangat menurun.

artikel14

Waktu yang di tunggu tiba yaitu makan siang, untuk mengobati rasa penasaran beberapa peserta rombongan tentu mencoba menu BPK, ( sedangkan yang lain tetap makan dengan menu sesuai selera). Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan kembali tentu dengan wajah yang gembira karena sudah kenyang walaupun harus melewati hutan dan semak yang penduduknya sangat jarang. Dan sampailah kami di Taman Wisata Iman, namun kami hanya singgah sebentar karena cuaca hujan sehingga kami tidak dapat menikmati keindahan taman tersebut dan hanya melihatnya melalui bus.

Perjalanan kembali dilanjutkan dan jalan yang kami lalui sungguh sangat menyeramkan, daerah tersebut biasa di sebut Tele yang artinya berkelok, dimana jalannya sempit, banyak tikungan tajam, tidak ada pembatas jalan dan disamping jurang menganga, walaupun nampak pula panorama alam yang indah, namun sepanjang perjalanan para peserta di landa rasa cemas dan ketakutan bahkan ada yang sampai menangis karena melihat keadaan jalan yang di lalui. Namun ada juga yang berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani untuk membuat hati menjadi lebih tenang…namun sebagian peserta masih tetap terlihat pucat dan pasrah. Itulah Tele yang penuh kelokan dan merupakan jalan paling berkesan yang pernah kami lalui. Akhirnya dengan kebaikan dan kuasa Tuhan, kami dapat melalui Tele dengan selamat dan kami tiba di Bruderan Budi Mulia Pangururan Samosir dengan disambut gerimis di sore hari, hilanglah rasa takut dan cemas yang tadi melanda. Untuk menghilangkan rasa lelah kembali kami di manjakan dengan berendam dikolam air hangat, wah segar………

Kamis, 24 Juni 2010…..kami mengikuti misa pagi di Bruderan. Perjalanan dilanjutkan ke Tomok, berasal dari kata Tolmok yang artinya gemuk/montok. Di tempat tersebut kami menikmati kesenian Sigalegale yaitu boneka kayu yang menari dengan digerakan oleh tali-tali (seperti wayang) menurut cerita dahulu kala Sigale-gale adalah seorang Pangeran yang sangat di sayang oleh ayahnya, namun suatu ketika ia gugur di medan perang dan untuk mengenangnya maka di buat patung yang mirip dengannya dan setiap kali di bunyikan musik patung tersebut bergerak/ menari seolah pangeran masih hidup. Dahulu untuk menggerakannya digunakan roh leluhur namun sekarang cukup dengan tali. Dan peserta rombongan dengan semangat mengikuti tarian Sigale-gale tentu dengan menggunakan ulos diiringi alunan musik daerah Batak., seru ya….

artikel15artikel16

Tidak jauh dari Sigalegale kami mengunjungi komplek makam para Raja daerah tersebut yaitu Raja Sidabutar dan keturunannya. Menurut kisah yang ada Raja Sidabutar adalah Raja yang sangat bijaksana dan mampu memimpin rakyatnya hingga rakyatnya dapat hidup rukun, sehat dan sejahtera.

artikel17

Saatnya kami menikmati keindahan danau Toba melalui Tomok dan menyeberang ke Parapat dari Parapat kami berkeliling Danau Toba dengan menggunakan kapal motor penyeberangan. Sepanjang perjalanan kami di hibur dengan tarian Batak dan para peserta mengikutinya dengan gembira.

artikel18

Kami juga melihat legenda Batu Gantung yaitu sebuah batu yang menggangtung di tepi danau Toba, menurut cerita konon ada seorang gadis yang di paksa menikah oleh ibunya, tetapi gadis itu menolak dan memilih gantung diri tetapi tidak mati, dari pada tidak mati dan membuat malu maka oleh ibunya ia di kutuk menjadi batu, jadilah kisah Batu Gantung.

artikel19

Jumat, 25 Juni 2010…. Misa pagi di gereja Inkulturasi St. Mikhael Pangururan. Gereja tersebut didirikan oleh Pastor Leo, Arsitektur gereja tersebut mengambil gaya rumah adat Batak dengan dominasi warna merah, putih dan hitam. Gereja tersebut terletak di tepi danau, sehingga dari depan gereja kita dapat menikmati pemandangan yang indah. Selanjutnya kami ke Tomok lagi untuk menyeberang dan melanjutkan perjalanan ke Pematang Siantar. Di Pematang Siantar Kami hanya singgah sebentar untuk makan siang selanjutnya kami menuju Medan.

Sabtu, 26 Juni 2010…….. Setelah Misa pagi kami melanjutkan wisata keliling Sebagian kota Medan sekalian untuk menambah oleh-oleh yang yang masih belum lengkap juga antara lain Bika Ambon, Bolu Meranti dll, (kalau teri Medan pasti sudah ada). Kami juga mengunjungi Istana Maimuun, yaitu istana dari kerajaan Deli yang dahulu sempat berjaya di Medan dan menyebarkan agama Islam di Sumatera Utara. Dari Istana tersebut kami menuju Panti Jompo untuk mengunjungi oma dan opa yang jauh dari keluarganya dan menghabiskan masa tuanya di tempat tersebut. Panti tersebut juga salah satu karya dari para suster KSSY Medan.

Setelah kunjungan dan oleh-oleh cukup, maka tiba saatnya untuk ke Bandara Polonia karena rencananya sore itu kami akan kembali ke Jakarta. Namun sesampainya di Bandara ada berita bahwa penerbangan kami terpaksa harus delay karena alasan opersional, sedianya kami terbang jam 16.00 wib, namun baru bisa terbang pada pukul 20.00 wib, tapi tidak apa-apa ‘biar delay asal selamat’ dan kami tiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 22.00 wib. Dan kami tiba dengan selamat dan bahagia karena telah di beri kesempatan yang luar biasa untuk bisa menikmati indahnya Propinsi Sumatera Utara selama satu minggu.

Akhirnya seperti lagu dari Koes Plus ‘…..Ke Jakarta kami kan kembali……’ Terima kasih Tuhan Yesus karena telah mencintai kami dengan kesempatan indah dan berkat yang melimpah. Terima kasih juga kami ucapkan kepada Sr. Paul, OSU, Sr. Gusta, OSU dan panitia yang telah membuat ide dan memperjuangkannya sehingga kita dapat bergembira bersama. Kami juga sangat berterima untuk para donatur dan mitra atas semua dukungannya.