Maria Ibu Kita Semua

Pada suatu sore tiba-tiba saya mendengar ratapan seorang anak remaja di samping tempat kerjaku. Ketika kudekati dan bertanya: “Ada apa Rini?” Jawabnya: “Ibuku di mana suster? Kalau ibuku ada aku bisa menceriterakan segala kesedihanku seperti teman-temanku yang lain yang punya ibu”. Sore itu Rini baru selesai bertengkar dengan temannya. Lain lagi seorang anak yang beberapa kali merengek: “Suster, mau ya, menjadi mama kandungku, karena mama kandungku sekarang jahat!”

Ungkapan dua anak di atas adalah wakil dari banyak anak Panti yang sangat merindukan kasih sayang dari ibunya yang sesungguhnya menjadi haknya.

Setiap kali menghadapi peristiwa seperti ini di Panti Asuhan Vincentius Puteri saya membawakan mereka dalam doa kepada Ibu Maria yang telah dipercayakan Yesus dan menyerahkannya kepada kita dengan bersabda : “Ibu, inilah anakmu!” dan “Inilah ibumu!” (Yoh.19:26-27). Kadangkala bila situasi memungkinkan saya mengajak anak bersangkutan untuk berdoa bersama dan bercerita betapa besar cinta  Ibu Maria kepada umat manusia pada umumnya dan secara khusus pada kita masing-masing.

Yesus telah melakukan penyerahan ibuNya dan kita manusia sejak 2000 tahun yang lampau sementara bergantung di kayu salib menjelang penyerahan nyawaNya kepada Bapa di surga.  Kita berbangga dan bersyukur mempunyai seorang ibu yang luar biasa : dia mau menjadi bunda Allah dan bunda kita serta siap menerima segala konsekuensinya hanya karena kasih yang besar dan iman yang kuat tanpa dimengertinya.

Iman dan kasih Ibu Maria yang kuat ini dapat kita ketahui antara lain :

  1.  Ketika malaikat Gabriel datang membawa berita bahwa dia dipilih Allah untuk menjadi Bunda Yesus, Juru selamat, Putera Allah. Dia sangat terkejut dan bingung …dia gadis desa…masih perawan…! Namun ketika malaikat mengatakan : “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk.1:37) dengan rendah hati dia menjawab: “Seungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.
  2. Pada waktu Yesus Puteranya dijatuhi hukuman mati. Ibu Maria menyaksikan bagaimana Puteranya dalam kondisi lelah… berlumuran darah memanggul salib menuju gunung Golgota di mana Dia dipaku pada kayu salib hina itu, bergantung sekian jam pada salib… hingga wafat (Yoh.19: 16b-30).

Kendati Ibu Maria mengalami banyak kesulitan dan penderitaan selama hidupnya namun imannya kepada Allah tetap kokoh sebab kasihnya amat besar terhadap Yesus dan kita umat manusia.

Bagaimana dengan para ibu yang lain baik ibu kandung maupun ibu dalam profesi?  Secara khusus para pengasuh atau pendamping anak (ibu/bapa) di Panti Asuhan.

Ibu kandung sama seperti Ibu Maria telah dianugerahi putera/puteri oleh Allah sebagai anugerah kasih supaya dibimbing, dididik dan diasuh ke arah kedewasaan dan kesempurnaan : “Karena itu haruslah kamu sempurna , sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat.5:48). Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak pertama-tama membutuhkan perhatian kasih sayang dan cinta kasih melebihi kebutuhan lainnya. “Cinta kasih yang mengarahkan segala-galanya kepada kemuliaan Allah dan kebahagiaan jiwa-jiwa”=anak-anak (St. Angela).

Demikian pula ibu/bapa pendamping atau pengasuh hendaknya menyadari dan senantiasa memperhatikan kebutuhan utama anak ini, baik anak yang nampaknya nakal maupun anak yang tampil manis. Mereka semua ingin didekati, didengar selain dinasihati dan ingin dirangkul /didekap, dikecupi sebagaimana layaknya hubungan antara orangtua dengan anak.

Semoga kita dapat meneladani ibu Maria yang tetap setia mengikuti panggilan dan melaksanakan misinya dalam membimbing, mendidik, mengasuh dan mendampingi Puteranya walaupun terasa berat bahkan berani menyaksikan dan turut merasakan penderitaan Puteranya hingga wafat di kayu salib. Cinta sejati bertahan dan tegar dalam penderitaan tidak menghindarinya atau melarikan diri. Hingga kini dan selamanya Ibu Mariapun selalu setia membimbing dan mendoakan anak-anak dan kita semua kepada Yesus Puteranya.

 

“Maria adalah donatur doa dan kasih diatas segala donatur lain!”