Bagaimana anak-anak mendapatkan teman dan menjalin persahabatan…?

Disarikan dari buku : ’Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak’ Lawrence E. Shapiro’ 1997.

Hubungan sosial pada anak sangat penting bagi perkembangan kepribadian mereka. Ada pendapat bahwa perkembangan kepribadian anak ditentukan oleh jumlah semua hubungan antarpribadinya, yang dimulai dengan hubungan yang baik dengan orangtuanya sendiri, namun demikian hubungan dengan teman sebaya juga mempunyai pengaruh yang besar. Persahabatan di kalangan anak-anak pada umumnya meninggalkan kebiasaan yang tercetak seumur hidup dan mempengaruhi dalam pergaulan selanjutnya

Sebagai orangtua seberapa jeli kita memperhatikan perilaku anak kita hingga tiba-tiba kita tahu bahwa mereka mempunyai teman yang baru?

Ternyata ada beberapa tahapan dan kadang saling tumpah tindih yang harus dilewati oleh anak-anak, hingga pada akhirnya mereka mempunyai teman atau sahabat yang sejati. Berikut tahapan yang mereka lewati :

  1. Tahap Egosentris
    Tahap ini biasanya antara usia 3-7 tahun, dalam tahap ini anak biasanya mendefinisikan teman-temannya adalah sebagai orang lain yang secara bersamaan terlibat dalam kegiatan yang sama atau anak-anak lain yang tinggal (rumahnya) dekat dengan mereka. seorang ‘sahabat’ bagi anak kecil seusia ini biasanya adalah teman yang tinggal paling dekat dengannya. Dengan kata lain, anak-anak pada tahap ini mencari teman yang dapat mereka ‘manfaatkan’, misalnya mereka yang mempunyai mainan yang dapat dipinjam atau mereka mempunyai barang pribadi yang tidak dipunyainya.

  2. Tahap Pemenuhan Kebutuhan
    Tahap ini antara usia 4-9 tahun, tahap ini anak tidak lagi termotivasi oleh egosentris tetapi lebih berminat kepada proses suatu hubungan. Mereka menghargai teman sebagai individu, tidak lagi berdasarkan tempat tinggal atau apa yang mereka miliki. Pada tahap ini anak mempunyai dorongan dari dalam untuk mencari teman karena dengan ini ada kebutuhan khusus yang akan terpenuhi.
    Mereka tertarik pada teman yang mau bermain bersama atau yang mau menerima pemberian darinya, biasanya balasan tidak dianggap penting bagi mereka. Teman merupakan sesuatu yang paling mereka butuhkan pada tahapan ini, umumnya anak-anak sulit berteman dengan lebih dari satu orang dalam waktu yang bersamaan.
  3. Tahap Balas Jasa
    Tahap ini antara usia 6-12 tahun, fase ini dicirikan dengan adanya tuntutan balas jasa dan kesamaan hak. Umumnya mereka mempertimbangkan dua hal ini dalam berteman. Sehingga bila mereka memberi sesuatu pada temannya maka ia harus mendapat balasan dari temannya tersebut. Karena tuntutan balas jasa ini maka, persahabatan selama fase ini cenderung kepada pasangan-pasangan, biasanya kelompok yang terbentuk selama tahap balas jasa ini hanya suatu jaringan pasangan/kelompok berjenis kelamin sama.
  4. Tahap Akrab
    Tahap ini antara usia 9-12 tahun dan anak-anak siap untuk terlibat dalam persahabatan yang betul-betul akrab. Banyak psikolog memandang bahwa tahapan ini sebagai fondasi untuk semua hubungan akrab, dengan mengajukan teori bahwa anak-anak yang tidak mampu membentuk persahabatan di masa pra remaja dan remaja awal, mungkin kelak mereka tidak pernah bisa merasakan ‘keakraban sejati’ sebagai remaja atau bahkan hingga ia dewasa. Kesediaan untuk berbagi emosi, masalah, dan konflik pada tahapan ini membentuk ikatan emosional yang mendalam yang oleh anak-anak akan dikenang sebagai hubungan yang paling berkesan seumur hidup. Dalam beberapa pengalaman, persahabatan tahap ini betul-betul berlangsung hingga akhir hayat.

Sebagai orangtua kita perlu membantu anak menjalin persahabatan dalam setiap tahapan, berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membantu anak-anak dalam menjalin persahabatan :

Tahap egosentris :

Bagi anak-anak yang masih kecil atau bagi mereka yang pemalu dan cenderung tidak senang bergaul, penting bagi kita untuk merencanakan kegiatan-kegiatan yang mengharuskan mereka bersama-sama anak-anak seperti mereka atau mempunyai minat yang sama.

Tahap pemenuhan kebutuhan :

Pada tahap ini orangtua perlu mendorong anak-anak untuk bercerita tentang pengalamannya, sering-seringlah berbincang-bincang dengan anak-anak. Hal penting lainnya adalah bertindak sebagai teladan yang baik bagi anak, selain itu ajaklah anak-anak untuk mengikuti kegiatan orangtua sehingga anak akan melihat bagaimana menjalin relasi dan makna persahabatan yang dijalin orangtua mereka.

Tahap balas jasa :

Dalam tahap ini kadang terjadi konflik antar teman dalam hal ini orangtua bisa menjadi teman yang baik bagi anak, misal dengan memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan sikap sabar, tahan terhadap rasa sakit hati dan mampu membuat keputusan tentang cara menangani emosi dan pengalaman negatif lainnya. Yang penting orangtua mampu memastikan bahwa anak tidak menjauh dari teman-teman dan menjadi anak penyendiri. Jika anak mengalami kesulitan dalam mendekati anak lain, orangtua bisa membantu anak untuk mencarikan dan melibatkan anak dalam suatu kegiatan tertentu yang pada akhirnya anak mampu memperoleh teman baru.

Tahap akrab :

Dalam tahap ini peran orangtua adalah sebagai pembimbing. Tetapkan batas-batas sesuai usia, tanamkan nilai-nilai dan dukung perkembangan pribadi dan hubungan antarpribadi mereka. Dalam tahap ini kadang orangtua merasakan suatu perpaduan antara rasa lega (karena anak sudah remaja) dan kehilangan karena berkurangnya peran orangtua dalam kehidupan anak, namun yang terpenting bahwa orangtua tetap menjadi pembimbing dan sahabat bagi anak dalam segala situasi.