Cerita Bulan Maret - Mari Berbagi

Bulan Maret ini adalah bulan yang baik untuk berbagi setelah kita melewati bulan Februari dimana di bulan tersebut orang biasa menyebutnya sebagai bulan kasih sayang. Berbagi memiliki arti yang sangat luas dan bisa dalam berbagai macam cara dan bentuk...... seperti cerita dibawah ini:

Suatu siang setelah makan bersama, anak-anak melakukan kegiatan rutin seperti biasa yaitu membantu ibu pengasuh untuk membersihkan meja makan, mengelap piring, dan ada yang bersiap siap memulangkan rantang ke dapur dan sesudahnya mereka akan siap-siap untuk tidur siang... walaupun kegiatan/ pekerjaan itu sudah biasa dilakukan namun terpancar ada rasa letih dari wajah pengasuh dan anak-anak tsb terlebih mereka baru saja pulang sekolah.

Tiba-tiba saja terdengar suara Sr.Vin yang sedang berjalan mengajak tamu menuju unit I, seperti biasanya suster yang datang dengan tamu akan masuk ruangan untuk salaman dengan anak-anak namun suasananya agak sedikit berbeda mungkin karena semua sudah merasa letih dan mengantuk anak-anak hanya salaman dan menyapa tamu itu dengan gaya malas-malasan dan ada terlihat rasa kecewa di wajah tamu tersebut... namun tiba-tiba saja Deo yang berusia 3 tahun maju ke depan tamu itu dan menyalaminya dengan muka ceria menyapa dengan suara yang lantang dan penuh percaya diri Deo bernyanyi “ Ada Monyet di atas Pohon” sambil bergaya dengan satu jari diatas kepalanya dan berjoget joget riang, ibu Pengasuh, suster, anak-anak yang lain dan para tamu pun tiba-tiba serentak tertawa riang karena menyaksikan tarian dan mendengarkan Deo menyanyikan lagu yang salah.  Hal sederhana yang dilakukan Deo mampu membuat suasana ruangan menjadi hangat.... trimakasih Deo.... karena sudah mau berbagi kecerian dengan kami semua.

Rasa hangat berbagi pun dapat terasa sangat kental ketika di unit 2 anak-anak yang lebih besar membantu adik-adiknya lebih kecil untuk memakai baju dan sepatu dan seorang suster membagi-bagikan kue kepada anak-anak dengan cara menyuapkannya kue tsb kepada tiap anak... mungkin bagi anak-anak yang tinggal di rumah atau tinggal di dalam keluarga yang utuh disuapin kue oleh orangtuanya merupakan hal yang biasa tapi tidak di panti kami dimana jumlah anak lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pengasuh anak-anak dibiasakan hidup mandiri oleh sebab itu hal sederhana tersebut menjadi sangat berharga bagi mereka, ketika suster menyuapi mereka kue, mereka sangat senang dan mengerubuti suster untuk disuapin walaupun kue yang dimakan adalah kue biasa yang sudah sering mereka makan... membagi waktu untuk berbagi dengan ketulusan hati walaupun hanya sejenak membuat sesuatu menjadi sangat berarti.

Di panti kami anak yang masih memiliki keluarga diizinkan mengunjungi anak anak 2 kali dalam 1 bulan namun banyak juga orangtua yang tidak menggunakan kesempatan tersebut dengan baik karena berbagai macam alasan, ada juga anak yang dititipkan dari bayi sampai mereka besar orangtua/ sanak saudara yang diharapkan tak kunjung datang....dan hal tersebutlah yang membuat anak-anak selalu mencoba menarik perhatian para tamu dengan berbagaimacam cara..... salah satu anak kami yang masih dikunjungi yaitu Yordan yang berusia 4 tahun dia terlihat tampak riang karena mendapatkan kunjungan dari orang yang memiliki arti special di hatinya yaitu Omanya .... ada rasa dan haru melihat kebahagian di mata Yordan, namun ada terselip rasa sedih di hati melihat banyak anak-anak yang tidak lagi di kunjungi oleh orangtua ataupun keluarganya.

Di Boncel kami memiliki ruang khusus bagi anak-anak yang di kunjungi keluarga kami menyebutnya “ Ruang Kunjung / Ruang Besuk” hal tersebut kami lakukan agar anak-anak yang tidak di kunjungi keluarga tidak merasa iri ataupun bertanya tanya kenapa mereka tidak di tengok, sekembalinya Yordan dari ruang Besuk ternyata dia membawa kue dari omanya... rasa bangga terlihat dari wajahnya betapa berartinya kue itu karena pemberian dari orang yang di kasihinya ketika Ia membawa kue tersebut terlihat rasa penasaran dari anak-anak yang lain dan tidak sabar untuk ikut  mencicipi kue tersebut.... ada rasa kuatir di hati kami para  Ibu bahwa Yordan tidak akan membagi kue tersebut dengan teman temannya ternyata kami salah di luar dugaan kami ternyata Yordan langsung membagi-bagikan kue tersebut kepada teman-temannya dan tanpa ada yang mengajari teman-temannya serempak berkata “ Terimakasih Yordan ..... besok lagi yachhhhh....” senyum dan tawa menghiasi sore itu dengan sepotong kue dari Yordan. rasa bangga pun timbul di hati kami para ibu pengasuhnya.

Mungkin kisah Yordan yang sederhana ini adalah sedikit gambaran bahwa Kebahagian akan lebih indah bila semua atau orang-orang di sekeliling kita pun dapat merasakan kebahagiaan tersebut.

Masih dengan tema Berbagi, kali ini yang menjadi tokoh utama adalah Ludfi yang berusia 3 tahun yang sudah mulai belajar untuk berbagi pengetahuan, saat itu di pagi hari setelah semua selesai mandi anak-anak duduk bersandar di tembok lalu ibu pengasuhnya mengajak anak-anak bermain sambil belajar mengenal warna “ Ayooo..... semua duduk manis ya... yang duduk manis akan ibu panggil duluan” serentak semua anak langsung duduk sambil melipat tangan dengan kaki bersila ibu pengasuh melanjutkan “ anak-anak kita belajar mengenal warna ya...” kami menggunakan karpet lantai yang berwarna warni dimulai dengan anak-anak yang berusiatiga  tahun terlebih dahulu walaupun tidak semua anak menyebut warna tersebut dengan benar lalu dilanjutkan kepada anak-anak yang berusia 2  tahunan.

“ Ayo coba... adit, warna biru yang mana..? Ia berdiri mencari warna biru diantara sekian banyak warna yang terhampar sebagai karpet di kakinya.. terlihat bahwa ia kebingungan tapi tetap terlihat senyuman di bibirnya, kemudian tiba-tiba tanpa ada perintah Lutfi maju ke depan dan membimbing Adit sambil berkata “ Dit...ini loch yang warna biru ! terlihat senyum simpul dari bibir lutfi  “ Pintar Lutfi sekarang ayo duduk lagi” ibu pengasuh memberikan pujian kepada lutfi “ Nah sekarang Nando mana warna merahnya? karena perutnya yang gemuk Nando perlu sedikit usaha untuk berdiri dengan cepat lalu berputar putar di atas karpet sambil berkata “ nih...nih... ini” , “ Salah Nando ....coba cari lagi ...” si ibu pengasuh memberi semangat kepada Nando, lagi-lagi lutfi berdiri dan menunjuk karpet berwarna merah “ Nah ini yang merah!” , Karena Nando masih merasa bingung Nando hanya bergeser sedikit di karpet yang berwarna lain lalu Lutfi berkata lagi,” geser Nando... geser lagi” sambil tangannya meraih tangan Nando dan menuntunya ke karpet yang berwarna merah. “ sungguh pintar lutfi, sosialisasi yang bagus... good boy... trimakasih Lutfi sudah membantu Ibu pagi ini”

Memang sudah seharusnya kita melatih anak-anak kita untuk mengerti arti berbagi dari usia dini.